Berita

RENKON Tragedi 2004 (Rencana Kontinjensi Upaya Pelaksanaan Tanggap Darurat Bencana Longsor Gunung Bawakaraeng, Kab. Gowa)

  1. A.  Judul Program

RENKON Tragedi 2004 (Rencana Kontinjensi Upaya Pelaksanaan Tanggap Darurat Bencana Longsor Gunung Bawakaraeng, Kab. Gowa)

Oleh : Irmawati (Infokom SAR UNM)

  1. B.  Latar Belakang Masalah

Gambar Gunung BawakaraengKita sadari betapa kita hidup dalam Ring of Fire (lingkaran api geografis) yang sewaktu-waktu dapat mendatangkan bencana khususnya gempa dalam skala besar. Kesadaran ini seyogyanya mendorong pemerintah membuat berbagai persiapan yang diperlukan dalam menghadapi bencana, sehingga apabila terjadi bencana pemerintah dapat bereaksi cepat, tanggap, efisien, dan efektif demi keselamatan rakyatnya sehingga dampak dari bencana yang terjadi tidak terlalu besar.

Indonesia pada umumnya menempati urutan ketiga didunia sebagai negara yang paling rawan dan paling sering dilanda oleh bencana banjir, setelah India dan China. Hal tersebut dikemukakan oleh peneliti pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM, Dr. Muh. Aris Marfai, M. Sc, (Selasa 29 Desember 2009) silam dalam seminar Pengurangan resiko bencana.

Selain sungai dan laut, Gunung pun dapat  menjadi momok menakutkan yang dapat merenggut nyawa banyak. Contohnya saja hal yang tidak dapat kita lupakan pada peristiwa bencana alam Tsunami di Aceh yang terjadi delapan tahun silam yang begitu merenggut ribuaan korban jiwa dan Kapal tenggelamnya kapal Teratai Prima yang terjadi di teluk Makassar, dan peristiwa pada tahun 2000 yaitu longsornya Gunung Bawakaraeng yang merenggut nyawa, sehingga pada dasarnya berbagai bencana tersebut sangat memerlukan perhatian yang serius dalam penanganan yang cepat dan terpadu dari berbagai unsur sehingga dampak dari bencana sedini mungkin dapat diminimalisir.

Seperti diketahui runtuhnya Gunung Bawakaraeng pada  26 maret 2004, mengakibatkan  tewasnya 32 orang, 635 sapi hilang, hancurnya beberapa rumah dan satu gedung SD, serta tertimbunnya areal pertanian seluas 1.500 ha. Volume runtuhan diperkirakan mencapai 200 – 300 juta m3. Material  gunung mengalir di sungai Jeneberang dan berakibat sedimentasi Waduk Bili-Bili yang sangat besar. Bencana susulan akibat aliran debris pada Januari 2006 mengakibatkan hanyutnya jembatan Daraha.

Berbagai bencana tersebut memerlukan penanganan yang cepat dan terpadu dari berbagai unsur sehingga dampak dari bencana tidak terlalu besar. Upaya penanggulangan bencana tidak saja merupakan tanggungjawab pemerintah semata tetapi juga merupakan tanggungjawab seluruh masyarakat, untuk Mengantisipasi Tragedi tahun 2004 ini maka perlu dibuatkan Rencana Kontinjensi (Renkon) sebagai upaya  Pelaksanaan Tanggap Darurat Bencana Longsor Gunung Bawakaraeng, Kabupaten  Gowa.

  1. C.  Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalah yakni sebagai berikut bagaimana Rencana Kontinjensi tanggap darurat apabila tragedi 2004 terulang di kab. Gowa.

  1. D.  Tujuan Program

Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini, yaitu:

  1. Meningkatkan kesadaran akan selalu siap siaga dan dalam upaya penanggulangan bencana.
  2. Meminimalisir dan mencegah sejak dini adanya korban apabila tragedi 2004 terulang.
  3. Peningkatan pelayanan Penaggulangan bencana di Sulawesi Selatan khususnya di Kabupaten Gowa.
    1. E.  Gambaran Umum Masyarakat Sasaran
    2. 1.    Kondisi Wilayah

Kabupaten Gowa berada pada 119.3773° Bujur Barat dan 120.0317° Bujur Timur, 5.0829342862° Lintang Utara dan 5.577305437° Lintang Selatan. Kabupaten yang berada di daerah selatan dari Selawesi Selatan merupakan daerah otonom ini, di sebelah Utara berbatasan dengan Kota Makassar dan Kabupaten Maros. Di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sinjai, Bulukumba dan Bantaeng. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Takalar dan Jeneponto sedangkan di bagian Baratnya dengan Kota Makassar dan Takalar.

Wilayah administrasi Kabupaten Gowa terdiri dari 18 kecamatan dan 167 desa/kelurahan dengan luas sekitar 1.883,33 kilometer persegi atau sama dengan 3,01 persen dari luas wilayah Propinsi Sulawesi Selatan. Wilayah Kabupaten Gowa sebagian besar merupakan dataran tinggi yaitu sekitar 72,26 persen. Ada 9 wilayah kecamatan yang merupakan dataran tinggi yaitu Parangloe, Manuju, Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu. Dari total luas Kabupaten Gowa 35,30 persen mempunyai kemiringan tanah di atas 40 derajat, yaitu pada wilayah kecamatan Parangloe, Tinggimoncong, Bungaya dan Tompobulu.

Kabupaten Gowa dilalui oleh banyak sungai yang cukup besar yaitu ada 15 sungai. Sungai dengan luas daerah aliran yang terbesar adalah Sungai Jeneberang yaitu seluas 881 km² dengan panjang 90 km.

Seperti halnya dengan daerah lain di Indonesia, di Kabupaten Gowa hanya dikenal dua musim, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Biasanya musim kemarau dimulai pada Bulan Juni hingga September, sedangkan musim hujan dimulai pada Bulan Desember hingga Maret. Keadaan seperti itu berganti setiap setengah tahun setelah melewati masa peralihan, yaitu Bulan April-Mei dan Oktober-Nopember.

Curah hujan tertinggi yang dipantau oleh beberapa stasiun/pos pengamatan terjadi pada Bulan Desember yang mencapai rata-rata 716 mm, sedangkan curah hujan terendah pada Bulan Juli-September yang bisa dikatakan hampir tidak ada hujan.

  1. 2.    DEMOGRAFI

Dilihat dari jumlah penduduknya, Kabupaten Gowa termasuk kabupaten terbesar ketiga di Sulawesi Selatan setelah Kota Makassar dan Kabupaten Bone. Berdasarkan hasil Sensus penduduk tahun 2010, penduduk Kabupaten Gowa tercatat sebesar 652.941 jiwa. Pada Tahun 2009 jumlah penduduk mencapai 617.317 jiwa, sehingga penduduk pada Tahun 2010 bertambah sebesar 5,45 persen. Persebaran penduduk di Kabupaten Gowa pada 18 kecamatan bervariasi. Hal ini terlihat dari kepadatan penduduk per kecamatan yang masih sangat timpang. Untuk wilayah Somba Opu, Pallangga, Bontonompo, Bontonompo Selatan , Bajeng dan Bajeng Barat, yang wilayahnya hanya 11,42 persen dari seluruh wilayah Kabupaten Gowa, dihuni oleh sekitar 54,35 persen penduduk Gowa. Sedangkan wilayah Kecamatan Bontomarannu, Pattallassang, Parangloe, Manuju, Barombong, Tinggimoncong, Tombolo Pao, Parigi, Bungaya, Bontolempangan, Tompobulu dan Biringbulu, yang meliputi sekitar 88,58 persen wilayah Gowa hanya dihuni oleh sekitar 45,65 persen penduduk Gowa.

 Peta Administrasi Kab. Gowa

No. Nama Kecamatan Luas Wilayah (km2) Jumlah Penduduk
(jiwa)
1 Bontonompo 30,39 39.690
2 Bontonompo Selatan 29,24 28.578
3 Bajeng 60,09 62.691
4 Bajeng Barat 19,04 23.149
5 Pallangga 48,24 99.715
6 Barombong 20,67 34.874
7 Sombaopu 28,09 131.598
8 Bantomarannu 52,63 31.565
9 Pattalassang 84,96 22.101
10 Parangloe 221,26 16.731
11 Manuju 91,90 14.235
12 Tinggimoncong 142,87 22.361
13 Tombolo Pao 251,82 27.146
14 Parigi 132,76 13.221
15 Bungaya 175,53 16.006
16 Bantolempangan 142,46 13.446
17 Tompobulu 132,54 29.236
18 Biringbulu 218,84 32.673
  Jumlah 1883,33 659.153

Tabel Luas Kecamatan dan Jumlah Peduduk di Kabupaten Gowa

Sumber: Gowa dalam angka 2012

  1. F.   Metode Pelaksanaan Program
    1. 1.      PENILAIAN RISIKO DAN PENENTUAN KEJADIAN
    2. Penilaian Risiko

Kabupaten Gowa merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang sebagian daerahnya termasuk daerah rentan gerakan tanah/tanah longsor. Menurut data kejadian gerakan tanah, di Kabupaten Gowa terbesar terjadi di Gunung Bawakaraeng.

Gunung Bawakaraeng terletak sekitar 75 km dari Kota Makasar. Secara administratif termasuk ke wilayah Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan. Dengan ketinggian sekitar 2,830 m di atas permukaan laut dan suhu minimum sekitar 17°C hingga maksimum 25°C, gunung ini adalah hulu sungai Jeneberang yang di hilirnya terdapat waduk Bili-Bili, merupakan daerah tangkapan air untuk Kabupaten Gowa, Makassar dan Sinjai.

Pada hari Jum’at tanggal 26 Maret 2004, jam 14.30 WITA terjadi gerakan tanah/longsor berupa runtuhnya sebagian tubuh G. Bawakaraeng bagian barat laut  yang diikuti oleh bencana banjir bandang telah menewaskan dan mencederai puluhan orang, 10 rumah dan 1 (satu) sekolah tertimbun dan hancur, puluhan hektar sawah tertimbun, puluhan rumah lainnya terancam dan ribuan orang lainnya mengungsi. Kejadian banjir bandang di daerah ini terulang kembali pada Februari 2007 yang menyebabkan 5 (lima) desa yang berpenduduk 13 ribu jiwa terisolir dan sebuah jembatan terputus, hanyut karena terbawa aliran banjir bandang.

Untuk penilaian Risiko dilakukan dengan dasar menghubungkan probabilitas dan dampak yang masing-masing dengan skala 1 – 5. Untuk probabilitas dan dampak seperti terlihat pada tabel 3.

Tabel 3. Penilaian Risiko

Jenis Ancaman Bahaya

Probabilitas

Dampak

  1. 1.    Gerakan Tanah (Tanah Longsor) & Banjir Bandang
  2. 2.    Banjir
  3. 3.    Gempa Bumi

 

5

4

2

5

4

4

  1. Penentuan Kejadian

Cara penentuan kejadian ditetapkan berdasarkan kesepakatan peserta kontinjensi, melalui penilaian risiko dan penetapan secara top-down. Diprediksi akan terjadi gerakan tanah di daerah di Kabupaten Gowa.

Tingkat ancaman yang akan terjadi dapat berupa ancaman ringan, sedang dan berat. Tingkat ancaman dalam rencana kontinjensi ini adalah ancaman berat, karena berdasarkan kejadian sebelumnya di Gunung Bawakaraeng, sehingga skenario yang digunakan adalah skenario dengan risiko berat.

Ancaman bencana Gerakan Tanah dan Banjir Bandang tersebut berpotensi menimbulkan bencana bagi masyarakat yang bermukim di daerah lereng serta dapat merusak sarana prasarana termasuk fasilitas umum.  Skala prioritas tingkat bencana dapat dilihat pada gambar 5. Matrik skala tingkat bahaya, dari gambar tersebut dapat dijelaskan bahwa gerakan tanah dan banjir bandang mempunyai probabilitas dan berdampak tinggi, sehingga Rencana Kontinjensi yang disusun diprioritaskan bencana gerakan tanah dan banjir bandang.

  1. 2.      KEBIJAKAN DAN STRATEGI

Pelaksanaan penanggulangan bencana geologi terutama bencana tanah longsor dan banjir bandang di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan dilaksanakan secara terpadu antar unit kerja (SKPD) beserta masyarakat serta dunia usaha.  Kebijakan dan kesepakatan serta komitmen bersama merupakan perwujudan dari pelaksanaan penanggulangan bencana di Kabupaten Gowa. Oleh karena itu, perlu disusun bentuk kebijakan dan strategi penanggulangan bencana di Pemerintah Kabupaten Gowa. Bentuk kebijakan dan strategi penanggulangan bencana tanah longsor dan banjir bandang dapat dilihat dalam tabel di bawah berikut.

Tabel 1. Kebijakan dan strategi penanggulangan bencana longsor dan banjir bandang Kabupaten Gowa

 

No.

 

Kebijakan

 

Strategi

 

1 Mengurangi dampak korban bencana terutama kelompok rentan (Balita, Ibu Hamil, Orang Cacat, dan Orang Tua)
  1. Membuat tempat pengungsian yang aman dari longsor susulan.
  2. Menyiapkan alat transporatasi untuk pengungsian
  3. Mendorong inisiatif pengungsian mandiri bagi penduduk di pemukiman yang terancam
  4. Mempersiapkan tim kesehatan untuk membantu korban luka dan trauma
  5. Membentuk tenaga sukarelawan  untuk membantu pengungsian
  6. Membentuk tenaga sukarelawan untuk mengevakuasi korban meninggal dan korban hilang
  7. Mempersiapkan tim identifikasi korban meninggal
2 Menyampaikan informasi bencana longsor secara cepat dan akurat
  1. Mendirikan pusat informasi yang dilengkapi alat komunikasi elektronik
  2. Membuat jaringan komunikasi lokal antara daerah bencana dengan tempat pengungsian
  3. Memberikan peringatan dini longsor susulan dan banjir bandang susulan
3 Memberikan rasa aman pada para pengungsi dan harta bendanya baik di tempat pengungsian maupun  di lokasi bencana
  1. Menepatkan Satuan Pengamanan di tempat pengungsian
  2. Menempatkan Satuan Pengamanan di lokasi bencana
4 Menetapkan status bencana
  1. Mengaktifkan Sistem Komando Tanggap Darurat
  2. Mendirikan Posko Utama dan Posko Lapangan
5 Tetap menyelenggarakan Kegiatan Belajar Mengajar saat tanggap darurat bencana
  1. Mendirikan sekolah darurat
6 Mengutamakan sumber daya lokal di dalam penanggulangan bencana
  1. Melakukan inventarisasi sumber daya manusia
  2. Melakukan inventarisasi sumber daya lainnya (sarana, prasarana, dan logistik)
7 Menyediakan anggaran operasional tanggap darurat
  1. Mencairkan dana tanggap darurat (dana on call)
  1. 2.        PERENCANAAN SEKTORAL
  2. Sektor SAR, Evakuasi dan Pengamanan
  3. Situasi

Sesuai dengan potret tanah longsor yang terjadi di beberapa kecamatan di Kab. Gowa yang memang rentan akan terjadinya bencana tanah longsor yaitu kecamatan Parigi yang terdiri dari lima desa (Desa Manimbahoi, desa Majannang, Desa Bilanrengi, Desa Sicini, Desa Jonjo), Kecamatan Tinggimoncong yang dimana terdiri dari Kelurahan Bulu tanah, Kelurahan Bontolerung, dan Desa Parigi, Serta Kecamatan ParangLoe di Desa lonjoboko, Desa Borisallo, Kelurahan Lanna, dan Kelurahan Bontoparang yang kadang  setiap  tahun terjadi.

Untuk menekan jatuhnya korban maka personil dan peralatan pendukung SAR 5. isiagakan selama 24 jam penuh selama musim hujan terjadi dan jumlah personil akan ditambah saat diakifkannya masa tanggap darurat. Indikator yang dipakai adalah informasi  Formasi retakan dan ukurannya yang makin lebar merupakan parameter ukur umum semakin dekatnya waktu longsor, Penampakan runtuhnya bagian-bagian tanah dalam jumlah besar, Selanjutnya kejadian longsor di satu tempat menjadi parameter kawasan tanah longsor lebih luas lagi. Perubahan-perubahan ini seiring waktu mengindikasikan dua hal: kerusakan lingkungan (misalnya penggundulan hutan dan perubahan cuaca secara ekstrim) dan menjadi tanda-tanda penting bahwa telah terjadi penurunan kualitas landskap dan ekosistem di wilayah Kab. Gowa.

  1. Sasaran

Sektor SAR, Evakuasi, dan Keamanan bertanggung jawab dalam melakukan operasi peyelamatan dan pencarian korban bencana, dengan sasaran tugas meminimalisasi korban bencana tanah longsor, juga memberikan rasa aman kepada semua masyarakat yang menjadi korban bencana tanah longsor, dengan sasaran pengamanan di tempat pengungsian, obyek vital, wilayah bencana, gudang logistik dan penyaluran atau distribusi logistik,. Untuk mendukung upaya tersebut Sektor ini membutuhkan personil pelaksana SAR, Evakuasi, dan Keamanan, meliputi:

  • BPBD KAB GOWA
  • BASARNAS
  • Kodim 1409/Gowa dan Koramil
  • Polres Gowa dan Polsek
  • Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab Gowa
  • PMI
  • PEMADAM KEBAKARAN GOWA
  • SAR BRIMOB
  • TAGANA
  • SAT POL PP
  • Relawan
  • KPA
  • Aparat Pemerintah Setempat

Dalam hal ini yang menjadi Leading sektor dalam menangani Bencana tanah longsor tersebut adalah BPBD Kab.Gowa

Pengamanan yang difokuskan pada beberapa obyek yaitu;

  1. Lokasi Bencana Tanah longsor
  2. Lokasi Pengungsian
  3. Obyek-obyek Vital, seperti Instansi Pemerintahan, Perkantoran, pasar tradisional, Puskesmas, Sekolah, mesjid, dll
  4. Ruas dan Persimpangan Jalan

Sektor SAR, Evakuasi, dan Keamanan bertanggung jawab dalam melakukan operasi peyelamatan, pencarian dan evakuasi korban bencana, dengan tujuan meminimalisasi korban bencana tanah longsor.

Adapun sasaran sektor ini :

  1. Terbentuknya satuan tugas SAR dari berbagai komponen pendukung
  2. Terlaksananya kegiatan SAR, Evakuasi, dan Keamanan warga yang terancam ke lokasi pengungsian akibat tanah longsor.
  3. Terlaksananya pencarian warga yang hilang atau terancam serius akibat tanah longsor.
  4. Terbentuknya Posko Keamanan pada tiga wilayah bencana di Kab. Gowa dan daerah-daerah yang termasuk rawan longsor.
  5. Terwujudnya rasa aman bagi masyarakat di daerah bencana tanah longsor
  6. Terciptanya pengamanan di tempat pengungsian
  7. Terciptanya pengamanan pada obyek-obyek vital di wilayah bencana,
  8. Terwujudnya pengamanan di gudang logistik dan penyaluran atau distribusi logistik.
  9. Terkoordinasinya para pihak pelaku pengamanan dan keselamatan pengungsi.
  10. Peningkatan pelayanan penanggulangan bencana di Gowa.
  11. Pemantapan koordinasi penanggulangan bencana alam antara unsur-unsur SAR terkait.
  12. Membangun kesadaran kontrol atau pengawasan terhadap bencana alam yang terjadi
  13. Kegiatan

No

Kegiatan

Pelaku

Waktu

1

Operasi SAR, Evakuasi, dan Keamanan  Warga terancam di tiga Kecamatan

Tim Rescue Satpol PP,   Tim Rescue Dinas Damkar,  Tim Rescue Dinas Sosial, BASARNAS,

PMI,  TNI, SAR BRIMOB, BPBD, TRC TAGANA  dan Relawan

Saat terjadi Tanah longsor

2

Operasi Pencarian Korban yang hilang dan meninggalTim Rescue Satpol PP,   Tim Rescue Dinas Damkar,  Tim Rescue Dinas Sosial, BASARNAS, PMI,                TNI, SAR BRIMOB,TRC TAGANA

Saat terjadi Tanah longsor

3

Identivikasi korban meninggalTim DVI Polres Gowa

Saat terjadi Tanah longsor

4

Penyusunan laporanKoordinator SAR, Evakuasi, dan Keamanan, BPBD, TNI, TAGANA, SAR BRIMOB.

Saat terjadi Tanah longsor    (secara berkala)

 

  1. Sektor Manajemen dan Posko
    1. Situasi

Bencana tidak bisa diprediksikan kapan saja bisa terjadi. Salah satu bencana yang dialami di Kecamatan Parigi terdiri dari Desa Maninmbahoi, Desa Majannang, Desa Jonjo, Desa Bilangrengi dan Desa Sicini Kecamatan Tinggimoncong terdiri dari Kelurahan Bontolerung, Kelurahan Bulutana dan Desa Parigi, Kecamatan Parangloe terdiri dari Desa Lonjoboko, Desa Borisallo, Kelurahan Lanna, Kelurahan Bontoparang yaitu Bencana tanah longsor dan banjir bandang, dimana pada saat itu di 3 wilayah Kecamatan terjadi kelumpuhan aktitfitas dan bahkan merugikan diberbagai sektor, sehingga memerlukan penanganan manajemen bencana yang efektif, efisien dan terkoordinasi.

Upaya atau langkah-langkah yang dilakukan dalam kegiatan sektor manajemen dan koordinasi, antara lain :

  1. Mengkoordinasikan antar sektor SKPD, BPBD, Bappeda, BPS, TNI dan Polri, Kecamatan, Kelurahan, Desa, dan unsur organisasi terkait (ORARI,SAR,PMI,LSM)  dalam penanganan bencana tanah longsor.
  2. Mengkoordinasikan tanggung jawab masing-masing SKPD dan Ormas sesuai tugas, pokok dan fungsinya
  3. Mengkoordinasikan penerimaan dan pendistribusian bantuan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
  4. Berkoordinasi dengan BPBD tentang  perkiraan ancaman bencana dan kebutuhan yang diperlukan dalam penanganan bencana tersebut.
  5. Menghimpun hasil evaluasi dan laporan yang disampaikan dari 3 posko Wilayah kecamatan, Kelurahan dan Desa.
  6. Mengkoordinasikan Seluruh Puskesmas dan Pustu yang ada di 3 Wilayah Kecamatan untuk menangani para korban bencana.
  7. Mengkoordinasikan posko yang ada di 3 wilayah Kecamatan.
  8. Melaporkan seluruh kegiatan dalam penanganan bencana tanah longsor dan banjir bandang, baik rutin maupun insidentil kepada Bupati Gowa.
  9. Sasaran
    1. Terwujudnya koordinasi penanganan bencana tanah longsor dan banjir bandang  selama tanggap darurat.
    2. Terwujudnya administrasi dan pelaksanaan penerimaan serta pendistribusian bantuan
    3. Terwujudnya manajemen penanganan korban & pengungsi.
    4. Terwujudnya inventarisasi kerugian dan korban yang ditimbulkan.
    5. Terwujudnya koordinasi posko di 3 Wilayah Kecamatan.
    6.  Kegiatan

No

Kegiatan

Pelaku

Waktu

1 Operasionalisasi Pusdalops

BPBD, BAPPEDA,BPS, KECAMATAN,  KELURAHAN, DESA, TNI, POLRI, ORGANISASI TERKAIT                                 ( ORARI,LSM,PMI,SAR)

Sebelum Tanggap Darurat

2Aktivasi Pos Komando  (POSKO)BPBD, BAPPEDA,BPS, KECAMATAN,  KELURAHAN, DESA, TNI, POLRI, ORGANISASI TERKAIT                                  ( ORARI,LSM,PMI,SAR)Saat Tanggap Darurat3Mengkoordinasikan

 

kegiatan sektoralBPBD, BAPPEDA,BPS, KECAMATAN,  KELURAHAN, DESA, TNI, POLRI,  ORGANISASI TERKAIT                              ( ORARI,LSM,PMI,SAR)Saat Tanggap Darurat   (14 hari)4Membuat laporan & Evaluasi harian  & incidentil penanganan bencanaBPBD, BAPPEDA,BPS, KECAMATAN,  KELURAHAN, DESA, TNI, POLRI, ORGANISASI TERKAIT                                ( ORARI,LSM,PMI,SAR)Saat Tanggap Darurat

(14 hari)5Rakor  Evaluasi Akhir Penanggulangan Bencana Tanah Longsor Dan Banjir BandangBPBD, BAPPEDA,BPS, KECAMATAN,  KELURAHAN, DESA, TNI, POLRI, ORGANISASI TERKAIT                            ( ORARI,LSM,PMI,SAR)Setelah Tanggap Darurat

(7 hari)

  1. Sektor Sarana Prasarana
  2. Situasi

Apabila terjadi bencana longsor Gunung Bawakaraeng yang disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi, maka diperkirakan penduduk di 3 (tiga) Wilayah Kecamatan yaitu Kecamatan Tinggimoncong, Kecamatan Parigi dan Kecamatan Parangloe mengalami ancaman. Dari data statistik yang ada jumlah penduduk yang terancam sebanyak 4.976 jiwa  dan jumlah penduduk yang mengungsi dikarenakan bencana tersebut sebanyak 3.777 jiwa ( 75,90% dari penduduk terancam bencana).

Bencana longsor dan banjir bandang tersebut disamping menyebabkan terjadinya pengungsian pada warga, juga menyebabkan kerusakan kerusakan fasilitas umum lainnya seperti kantor desa, sekolah, pasar, jalan, jembatan, saluran irigasi serta fasilitas umum lainnya menjadi rusak tertimbun longsoran. Beberapa sarana dan prasarana vital yang rusak akibat bencana tersebut harus diperbaiki dengan segera sehingga dapat berfungsi kembali. Sektor sarana prasarana juga bertanggung jawab untuk menyediakan sarana pengangkutan dan tempat pengungsian sesuai persyaratan.

  1. Sasaran
    1. Terangkutnya semua pengungsi ke lokasi evakuasi yang telah disiapkan.
    2. Tersedianya Sarana Penerangan untuk Pengungsi.
    3. Tersedianya Sarana Penampung Air Limbah Domestik Pengungsi.
    4. Tersedianya Sarana Mandi Cuci Kakus (MCK) Pengungsi.
    5. Tersedianya Tempat Pembuangan Sampah Pengungsi.
    6. Tersedianya Air Bersih bagi Pengungsi.
    7. Tertanganinya masalah pohon yang tumbang akibat bencana longsor.
    8. Terlaksananya penanganan sampah/ lumpur akibat bencana longsor.
    9. Terlaksananya pemulihan segera Sarana prasarana vital untuk pelayanan publik.
    10. Kegiatan

No

Kegiatan

Pelaksana

Waktu

1

Menyiapkan sarana Transportasi dan  Evakuasi Dinas Perhubungan, Satpol PP, Dinas Sosial, TNI, POLRI, Dinas Kesehatan Sesaat sebelum longsor

2

Menyiapkan lokasi/tenda pengungsian dan sarana penerangan Dinas Sosial, Satpol PP, PLN, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Pertambangan Sesaat sebelum longsor

3

Menyiapkan sarana MCK Dinas PU, BPBD Sesaat sebelum longsor

4

Menyediakan sarana kebersihan di Pengungsian Dinas PU Sesaat sebelum longsor

5

Menyiapkan Sarana Air bersih di pengungsian Dinas PU, PDAM, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan Sesaat sebelum longsor

6

Penyediaan Sarana – prasarana tempat pengungsian, Pos Kesehatan, dan Dapur Umum Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Satpol PP, PMI, BPBD Sesaat sebelum longsor

7

Menyiapkan Alat Pemulihan fungsi sarana-prasarana umum Dinas PU, Satpol PP, Dinas Perhubungan Saat Tanggap Darurat

4.Sektor Sosial & Logistik

  1.   Situasi

Bencana tanah longsor G.Bawakaraeng dan banjir bandang yang diperkirakan akan melanda wilayah Kabupaten Gowa di 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Parigi, Tinggimoncong dan Parangloe pada 2 januari 2014 pada pukul 00.oo sd.05.oo Wita memaksa sekitar 3.777 jiwa yang akan mengungsi di beberapa lokasi kurang lebih  lokasi.

Juimlah jiwa tersebut tersebar di 7 Desa/ Kelurahan yang terdiri dari Desa Manimbahoi 175 Jiwa, Kelurahan Bontolerung 150 Jiwa, Desa Lonjoboko 850 Jiwa,Desa Borisallo 949 Jiwa, Kelurahan Lanna 945 Jiwa,Kelurahan Bontoparang 709 Jiwa, pengungsi akan ditempatkan di beberapa gedung fasilitas umum tingkat Kecamatan, ada juga yang ditempatkan Gedung Fasilitas Umum tingkat Desa/Kelurahan.

  1.   Sasaran
  2. Terpenuhinya kebutuhan dasar pengungsi, mulai dari balita sampai kepada orang tua, meliputi kebutuhan Pangan dan sandang, Gizi, Air Bersih, Sanitasi.
    1. Terlaksananya penerimaan, penyortiran dan pendistribusian logistik dengan baik.
    2. Terselenggaranya pendidikan darurat secara baik.
    3. Terlaksananya pendampingan psikososial bagi pengungsi
    4. C.       Kegiatan

Kegiatan sektor sosial bertugas untuk memberikan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi, petugas pertolongan kedaruratan dalam bencana tanah lonsor selama masa tanggap darurat yang diasumsikan 14 hari.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan adalah :

No

Kegiatan

Pelaksana

Waktu

1

Mendirikan Dapur Umum Dinas Sosial, PMI dan Tagana, TNI, POLRI Sesaat setelah terjadi bencana

2

Menghimpun Bantuan Dinas Sosial, Camat, Kades dan Lurah, TNI, POLRI Tanggap darurat

3

Menyortir dan Memeriksa bantuan Dinas Sosial, Camat,Kades dan Lurah, TNI, POLRI Tanggap darurat

4

Distribusi bantuan Dinas Sosial, Camat , Kades dan Lurah, TNI, POLRI Tanggap darurat

5

KBM di lokasi pengungsian Dinas Pendidikan Selama Tanggap Darurat

5. Sektor Kesehatan

A.             Situasi

Berdasarkan peta pergerakan tanah pada tiga kecamatan di Kab. Gowa menunjukkan bahwa Kecamatan Tinggimoncong, Parigi dan Parangloe berpotensi mengalami bencana tanah longsor. Jenis ancaman tanah longsor yang teridentifikasi oleh penduduk/masyarakat adalah tanah, batu, kayu, lumpur dan jatuhan tanah

  1. Sasaran
    1. Terlaksananya pelayanan kesehatan yang optimal dan merata bagi penduduk yang mengalami masalah krisis kesehatan, dengan mendirikan Posko Pelayanan Kesehatan di area aman lokasi kejadian tanah longsor;
    2. Tersedianya Sumber Daya Manusia bidang  kesehatan yang profesional;
    3. Tersedianya Rumah Sakit Rujukan beserta tenaga dan sarananya (RSUD Syekh Yusuf Gowa, RS Swasta Thalia Irham dan Rumah Bersalin Mattiro Baji);
    4. Terlaksananya penanganan lanjutan bagi penduduk yang mengalami cidera/luka akibat tanah longsor;
    5. Terlaksananya rujukan kesehatan yang optimal;
    6. Terkirimnya laporan mengenai perkembangan situasi dan kondisi kesehatan kepada instansi terkait sesuai dengan format yang ada.
      1. C.  Kegiatan

No

Kegiatan

Pelaksanaan

Waktu

1

Pertemuan koordinasi sektor kesehatan BPBD, Dinkes, RSUD, RS Swasta, Puskesmas, Instansi terkait PMI, Komunitas Sahabat Gowa, Saka Bhakti Husada dan LSM Kesehatan Sebelum kejadian

2

Penyusunan rencana kontinjensi sektor kesehatan BPBD, Dinkes, RSUD, RS Swasta, Puskesmas, Instansi terkait PMI, Komunitas Sahabat Gowa, Saka Bhakti Husada dan LSM Kesehatan Sebelum kejadian

3

Menyiapkan Tim Kesehatan
  1. Tim Reaksi Cepat (TRC) pelayanan

kesehatan

  1. Tim Rapid Health Assesment (RHA) penilaian cepat kesehatan
  2. Tim Bantuan Kesehatan (TBK)

 

RSU, RS Swasta, DINKES, PMI, Saka Bhakti Husada

Hari ke-1 kejadian

 

Hari ke-1 kejadian

 

 

Hari ke-2, dst

4

Menyiapkan obat, bahan habis pakai, dan alat kesehatanDINKES, RSU, RS SwastaHari ke-1 kejadian

5

Membentuk posko kesehatan di wilayah rawanDINKES, PMI, Saka Bhakti HusadaHari ke-2 dan ke-3

6

Mengaktifkan Puskesmas dan Rumah sakit yang tidak terkena bencana selama 24 jam (sebanyak 11 unit)DinkesHari ke-1

7

Menyiagakan ambulanDINKES, RSU, RS SwastaHari ke-1

8

Menyiapkan Rumah Sakit LapanganRSU, RS SwastaHari ke-1

9

Pelayanan RujukanDINKES, RSUHari ke-1

 

 

 

Share

About the author

SAR UNM

Berbakti dalam Abdi, berbagi dengan Hati
Karena sebagian dari diriku bukanlah Milikku

Leave a Comment